Me and The Rest of My Day

Sunday, August 29, 2004

My Brain....

2004-04-30 02:19:16 (GMT)

Situasi sering berubah seiring jarum jam yang berjalan satu-satu kedepan.
Tidak ada yang bisa merubahnya, selain the all mighty God yang menyerukan, STOP!!
Tapi itu tanda dunia ini juga berhenti berputar bukan? Dan bukan itu yang kita semua inginkan.

Perasaan bergulir seperti air dari kucuran, turun dan terus turun, mengalir dan mengalir membasahi semua permukaan yang dilewatinya, dan tidak terkecuali. Walau terkadang terik dari sang matahari menguapkan butir-butir air kecil itu. Kering dan tak berbekas. Begitu juga dengan perasaan manusia, berubah, berjalan bahkan terkadang kering kerontang.

Hati manusia kadang ku pikir seperti sebuah kentang, jika diolah dengan baik, ia akan berubah dari sebuah tumbuhan bundar, jelek dan kotor menjadi makanan yang membuat perut buncit. Tetapi jika dia dibiarkan diatas dipan, dan kadang2 ditusuk2 menjadi mainan kanak-kanak, kentang itu akan menjadi busuk dan lebih buruk lagi, berulat dan bau.

Semua itu membuat aku berfikir – walau kadang aku malas memikirkannya – kehidupan itu diberikan awalnya mulia dan bersih, sama seperti selembar kertas folio yang baru dibeli dari toko buku, tetapi tangan2 jahil membuat lembar kosong itu berisi. Berisi kotoran, tulisan, sayuran bahkan bisa berisi obat-obatan dan marijuana. Tergantung siapa yang mengisinya dan apa isinya.

Kadang ingin aku mempunyai tangan yang super besar agar bisa memutar kembali rotasi bumi ini sehingga aku bisa mengulang hal-hal bodoh yang pernah melewati ruang waktu umurku hingga sekarang. Tetapi bagaimana? Dengan merendam tanganku di seember minyak tanah? Atau bagaimana? Bagaimana menghilangkan lubang-lubang bekas tusukan paku yang kutanamkan di belahan-belahan kayu hati orang-orang itu? Bisakah aku menambalnya seperti menambal ban yang pecah?

“Hai, apa kabar? *Ira*”Pesan singkat seharga 350 rupiah kuluangkan hanya untuk menyambung pertemanan yang terputus. Aku pikir – walau seperti yang pernah kubilang, kadang aku malas untuk berfikir – tidak ada salahnya aku menguntai kembali butir-butiran ‘teman’ yang terputus dari rangkaiannya. Tetapi ternyata balasan yang datang membuat aku ingin melompat-lompat – bukan karena senang – melainkan kaget. Untung jantungku sehat, sesehat matahari pagi. Kata-kata yang kudapat membuat segaris senyuman pahit muncul malam itu. Well, once again, dari satu sisi ingin kujawab sesuatu yang mungkin bisa membuat pembacanya merasakan panas dikepala dan hatinya. Tetapi kuingat lagi masalah ‘kentang’, aku tidak ingin menjadi kentang yang ada di dipan yang membusuk dan bau.

Belajar menahan semburan emosi yang keluar bukan sesuatu yang mudah. Selayaknya seorang kanak-kanak belajar mengendarai sepeda, awalnya roda tiga, lalu roda dua, lalu muncul bilur-bilur biru dikaki dan tangannya akibat terjatuh dan terjatuh dan terjatuh. Sampai akhirnya ia bisa mengendarainya dengan piawai dan tersenyum bangga. Begitu pula proses pembelajaran hati, emosi dan pikiran.

Aku coba menerawang dan melihat jalur-jalur kehidupan yang terlewat di rel nyawa ku yang ditiupkan Tuhan kira-kira hampir 27 tahun yang lalu. Tiket yang kubeli untuk melalui rel itu mahal, tapi tujuannya tergantung aku sebagai masinis. Ada banyak stasiun yang dimana seharusnya aku berhenti dan mengecek mesin keretaku, aku lewatkan begitu saja. Atau jalur yang seharusnya tidak kulewati tetap kulewati dan malah berlama-lama dijalur itu sampai ada petugas yang meniupkan peluit tanda bahaya. Malah terkadang ingin rasanya kutinggalkan kereta itu dan beralih ke kereta lain.

Sering aku terjerembab oleh sebaris aspal yang kubuat untuk alas ku berpijak. Entah pembuatannya yang tidak benar, atau bahan dasar aspal itu yang aku salah? Jangan-jangan aku salah mencampurkan adonan aspal itu, memakai ter atau tepung ya??? Entah lah! Tapi bilur-bilur yang ada dikaki dan tanganku membuat aku sadar ada sesuatu yang salah dengan cara aku berjalan, ada yang salah dengan cara aku mengendarai kereta ku itu, ada yang salah dengan cara aku belajar dan membuka-buka halaman kehidupan ku sendiri.

Ingin ku tiupkan kata-kata ini kepada semua orang yang hatinya menjadi bolong Karena paku yang ku tanamkan dihati mereka masing-masing;“Aku ini hanya setitik kecil manusia yang mencari gambaran jiwa, entah bentuknya abstrak atau riil. Kata maaf mungkin tidak cukup kuat untuk kuangkat dan kubagi-bagikan atau mungkin aku tidak cukup memiliki jatah untuk diriku sendiri. Tetapi akan kusisihkan sebentuk kecil lingkaran yang akan kucuil dari hatiku untuk menggantikan lubang-lubang yang kubuat dihatimu.”

Jika ada satu masa didalam lingkaran proses hidup manusia yang mengijinkan aku untuk berhenti dan berfikir, maka aku akan ambil itu dan kusimpan dalam saku bajuku untuk kubawa kemanapun aku pergi.J

ika ada satu kesempatan didalam jutaan kesempatan yang berlalu lalang dijalan raya, akan kucuri satu dan kugunakan untuk memperbaiki apa yang sudah rusak.

Jika ada satu hembusan nafas yang sedang dibagi-bagikan pada acara amal, aku akan mengemis dan merengek untuk mendapatkan satu dan kusimpan dalam lubang tanah yang dalam seperti binatang yang menguburkan makanannya untuk disantap nanti.

Jika ada satu kata yang mungkin bisa menyembuhkan luka, akan ku pakai itu untuk mengobati apa yang sudah pernah kugores. Bisa kah kata-kata penyembuh itu kutemukan di Apotik? Berapakah harganya? Apakah semahal harga diriku? Atau semahal jiwaku?

Ada banyak ‘JIKA’ di kosa kata otakku yang kecil ini.
Kaumau satu? Atau kau mau lihat contoh ‘JIKA’ yang dari tadikusebutkan?
Satuuu….saja!!

Baiklah, aku akan beristirahat dan membuka layar kecil yang baru, tidak mahal tapi bagus, tidak elok tapi merindukan. Tidak berwarna-warni tetapi polos. Kau mau kuberikan satu buah pinsil warna dan membantuku mewarnainya?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home